RumahCom – Terbitnya Peraturan Presiden tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas bumi melalui Jaringan Transmisi dan/atau Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil pada Februari lalu, telah mendorong kerja sama diantara pengembang properti dan penyedia jaringan gasoline (jargas).
Aturan tersebut menyiratkan adanya keterlibatan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sehingga membuat upaya pengembangan jaringan gasoline di properti Indonesia lebih mudah untuk diwujudkan. Sebab selama ini, kendala utamanya adalah pengembangannya yang dinilai mahal oleh pengembang.
PT Perusahaan Gas Negara (PGN) bersama dengan asosiasi pengembang Actual Property Indonesia (REI) pun telah menandatangani nota kesepahaman pada beberapa pekan lalu.
Keduanya telah membicarakan element tarif jaringan dan sejumlah persiapan yang perlu dilakukan pengembang untuk pembangunan jaringan dari PGN.
PGN sebagai perusahaan Sub Conserving Gas, telah mengajukan proposal untuk menambah four,7 juta sambungan jargas rumah tangga baru hingga 2025 
Sekjen DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida mengatakan, bahwa tersambungnya jargas untuk hunian rumah tapak ataupun apartemen akan menguntungkan bagi penghuni dengan adanya tarif dan harga gasoline yang lebih murah.
(Eits, jangan coba-coba beli rumah di pinggir kota tanpa menyimak ulasan wilayahnya di House Insider Rumah.com!)
Ia menjelaskan, untuk apartemen yang sudah selesai konstruksi dan siap huni, maka pengembang yang akan menyiapkan jaringannya. Sedangkan untuk properti yang belum dibangun, lanjut dia justru akan lebih baik lagi, karena sistem jaringannya bisa lebih dulu dimasukkan dalam desain awal.
“Kalau nantinya ada wilayah yang ternyata belum dilewati pipa gas, maka pengembang bisa lebih dulu menyediakan stasiunnya. Stasiun itu nanti secara periodik disuplai oleh truk tangki sesuai kebutuhan properti yang ada,” jelasnya.
Mau tahu apa saja keunggulan membeli rumah dengan fasilitas KPR? Lihat tipsnya dalam video berikut ini:

Bisa Untuk Menyalakan AC
Lebih jauh, Totok menuturkan penggunaan pipa gasoline akan lebih menghemat rumah tangga hingga 50% dibandingkan dengan penggunaan tabung gasoline yang menggunakan liquefied petroleum gasoline [LPG].
Apalagi karena Indonesia juga secara bertahap akan mengurangi impor LPG dan beralih menggunakan Liquified  Herbal Gas (LNG). Indonesia sesungguhnya merupakan penghasil LNG dan CNG yang memenuhi 80% kebutuhan dunia.
Nantinya, kalau jaringan tersebut sudah terpasang, manfaatnya tidak hanya untuk memasak tetapi diproyeksikan juga bisa juga untuk menyalakan alat pendingin ruangan (AC) dan pemanas air.
Sejauh ini baru ada sejumlah wilayah yang bisa lebih dulu mengoperasionalkan jaringan gasoline tersebut seperti Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, Semarang, Jakarta, dan Bodetabek.
Secara umum wilayah tersebut masih terpusat di Jawa Timur, karena pusat produksi gasnya yang dekat berada di Bawean, Jawa Timur. 
“Pada intinya, kami tinggal menunggu tindak lanjut dari PGN yang sudah menyampaikan secara lisan bahwa pengembang bisa menyiapkan stasiun untuk jaringannya,” tekannya.
Dari sisi pengembang, kerjasama ini juga disambut baik dan dinantikan oleh pengembang untuk menambah daya tarik pada penjualan perumahan.
Direktur Utama Riscon Realty, Ari Tri Priyono mengatakan, yang terpenting dalam pengembangan jaringan gasoline (jargas) rumah tangga tersebut adalah adalah agar pipa sambungan utamanya sampai ke depan perumahan, yang dibangun pengembang seperti halnya pemasangan pipa air minum.
“Fasilitas pipa gas untuk perumahan bisa membuat penjualan rumah lebih menarik, terutama dengan fitur untuk kalangan menengah sampai menengah ke atas,” ungkapnya.
Temukan beragam guidelines, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com